Sabtu, Januari 27, 2018

TPA Tamangapa dan Persepsi ‘Tak Mengapa’

Hewan dengan nama latin Bos taurus atau yang kita kenal dengan istilah sapi, umumnya diternakkan di lahan yang lapang dengan rerumputan yang meninggi atau di kandang yang dibangun menggunakan bahan kayu dengan atap seng bekas. Pakan hewan ruminansia ini pun sejatinya memakan rumput hijau yang disediakan alam atau pakan yang telah diracik oleh peternak.

Namun, hal berbeda dapat dijumpai di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah, Kelurahan Tamangapa, Kecamatan Manggala, Kota Makassar. TPA yang identik dengan sampah yang menggunung hingga saat ini dihuni oleh ratusan sapi sepanjang hari. Sapi-sapi disebar di area TPA saat pagi hari untuk mencari makan di tumpukan sampah, dan digiring pulang saat hari mulai gelap. Gerombolan sapi tersebut mengais dan memakan sampah yang ‘entah-dari-mana’ dan ‘terkontaminasi-dengan-apa’, demi mengurangi pengeluaran biaya pakannya. Tentu saja sapi yang diternak dengan cara tersebut akan berdampak buruk bagi kesehatan bila dikonsumsi oleh masyarakat.


Hingga hari ini, sapi-sapi di gunung sampah masih hal yang lazim ditemui, sebuah pemakluman yang dibiarkan.


Jalur utama TPA Tamangapa, Kota Makassar, saat ekskavator, mobil pengangkut sampah, dan gerombolan sapi berbagi satu jalan.


Sapi-sapi mendaki gunung sampah, sementara pekerja disana menganggap hal tersebut merupakan suatu kewajaran. 


Gerombolan sapi melangkah pulang ketika hari mulai gelap.


Truk pengangkut sampah menuju ke titik pembuangan sampah saat sapi-sapi digiring pulang oleh pengembala


Anak sapi yang bersandar pada bagian abdomen induknya.

Share:

0 hujatan:

Posting Komentar

Mohon bantuannya untuk memberikan umpan balik, Bapak/Ibu. Terima kasih