Hewan dengan
nama latin Bos taurus atau yang kita
kenal dengan istilah sapi, umumnya diternakkan di lahan yang lapang dengan
rerumputan yang meninggi atau di kandang yang dibangun menggunakan bahan kayu
dengan atap seng bekas. Pakan hewan ruminansia ini pun sejatinya memakan rumput
hijau yang disediakan alam atau pakan yang telah diracik oleh peternak.
Namun, hal
berbeda dapat dijumpai di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah, Kelurahan
Tamangapa, Kecamatan Manggala, Kota Makassar. TPA yang identik dengan sampah
yang menggunung hingga saat ini dihuni oleh ratusan sapi sepanjang hari.
Sapi-sapi disebar di area TPA saat pagi hari untuk mencari makan di tumpukan
sampah, dan digiring pulang saat hari mulai gelap. Gerombolan sapi tersebut
mengais dan memakan sampah yang ‘entah-dari-mana’ dan
‘terkontaminasi-dengan-apa’, demi mengurangi pengeluaran biaya pakannya. Tentu
saja sapi yang diternak dengan cara tersebut akan berdampak buruk bagi
kesehatan bila dikonsumsi oleh masyarakat.
Hingga hari ini,
sapi-sapi di gunung sampah masih hal yang lazim ditemui, sebuah pemakluman yang
dibiarkan.
![]() |
Jalur utama TPA
Tamangapa, Kota Makassar, saat ekskavator, mobil pengangkut sampah, dan
gerombolan sapi berbagi satu jalan.
|
![]() |
Sapi-sapi
mendaki gunung sampah, sementara pekerja disana menganggap hal tersebut merupakan
suatu kewajaran.
|
![]() |
Gerombolan sapi
melangkah pulang ketika hari mulai gelap.
|
![]() |
Truk pengangkut
sampah menuju ke titik pembuangan sampah saat sapi-sapi digiring pulang oleh
pengembala.
|
![]() |
Anak sapi yang
bersandar pada bagian abdomen induknya.
|





0 hujatan:
Posting Komentar
Mohon bantuannya untuk memberikan umpan balik, Bapak/Ibu. Terima kasih